Tulisan ini adalah buah pikir Sori Siregar, Cerpenis. Dimuat di Kompas, 2 Maret 2012. Tulisan yang menyentil kehidupan sehari-hari terkadang getir tetapi melahirkan senyum. Coba saja baca tulisan ini.
Kecenderungan melafalkan kata-kata bahasa Inggris dengan lafaz fonem demi fonem bahasa Indonesia tampaknya telah biasa di negeri kita. Sangat jarang terdengar orang Indonesia melafalkan debt collector dengan ”det kelekte”. Yang kita dengar sehari-hari ”deb kolektor”. Kata debt dilafalkan dengan ”deb”, bukan ”det”, dan collector dengan ”kolektor”, bukan ”kelekte”.
Karyawan gerai komputer seenaknya melafalkan install dengan ”instal”, bukan ”in’sto:l”. Pelayan bisnis waralaba yang menjual donat bahkan memperbaiki lafal saya untuk mengingatkan saya bahwa lafal yang ia ucapkanlah justru yang benar. Jus jeruk yang saya pesan, katanya, berukuran ”jumbo”, bukan ”jambou”.
Dalam sidang Komisi III DPR tentang Bank Century, seingat saya satu-satunya narasumber yang melafalkan Century dengan ”senceri” hanyalah Wakil Presiden Boediono. Selebihnya menyebutkan ”senturi”. Tank Leopard bekas yang akan kita beli dari Belanda dibaca dalam berita salah satu stasiun televisi dengan ”leopard”, bukan ”leped” sebagaimana seharusnya dilafalkan.
Hampir semua narasumber yang diwawancarai di berbagai stasiun televisi melafalkan extraordinary dengan ”ekstraordinari”. Sedikit belaka narasumber membunyikan ”iks’tro:dnri” seperti dilafalkan orang Inggris atau ”iks’tro:deneri” seperti diucapkan orang Amerika. Perbedaan dalam ejaan dan lafal memang terdapat dalam sejumlah kata bahasa Inggris yang digunakan orang Inggris dan orang Amerika.
Pengindonesiaan di negeri kita terjadi bukan karena adanya perbedaan itu, tetapi lebih karena ketakmampuan kita melafalkannya dengan benar. Ketika orang melafalkan facebook dengan ”fesbuk”, bukan ”feisbuk”, email dengan ”imel”, bukan ”imeil”, take off dengan ”tek off”, bukan ”teik off”, saya yakin orang itu memang kesulitan melafalkan kata tersebut dengan benar.
Kebiasaan ini sebenarnya bukan hal baru di negeri kita. Lebih dari setengah abad lalu di bilangan Kebayoran Baru Jakarta ber- diri pasar bernama Pasar Mayestik. Lafal ”mayestik” ini jelas digunakan untuk kata majestic yang dalam bahasa Inggris seharusnya diucapkan ”me’jestik”. Cuma pihak yang pertama-tama melafalkan ”mayestik” dari kata majestic itu bertindak lebih berani. Ejaan majestic sekaligus diubahnya menjadi mayestik. Langkah seperti ini sebenarnya lebih baik. Upaya mengindonesiakan lafal bahasa Inggris atau bahasa asing mana pun sebaiknya dilakukan sekaligus dengan mengubah ejaan katanya. Orang Malaysia menyebut ban dengan tayar, yang lafal dan ejaannya diubah sekaligus dari kata Inggris tire.
Dengan mengindonesiakan lafal kata-kata Inggris dengan lafal yang kita sukai, artinya kita tak lagi membutuhkan transkripsi fonetis yang merupakan keharusan dalam mempelajari bahasa Inggris. Dengan mengubah semua lafal Inggris menjadi lafal Indonesia, membaca kata-kata Inggris menjadi sangat mudah karena setiap orang yang melek huruf dapat melakukannya meski tak memahami artinya.
Kalau kita memang tak dapat melafalkan kata yang dimaksudkan dengan benar karena kita memang tak mampu berbahasa Inggris, mengapa kita tak memilih jalan aman. Kita gunakan saja bahasa Indonesia. Mengapa harus menggunakan debt collector kalau kita dapat memakai penagih utang. Debt collector tak lebih canggih daripada penagih utang dan tak juga membuat orang lebih terpelajar jika menggunakan debt collector itu. Berbahasa adalah menggunakan bahasa dengan mengikuti semua peraturan atau ketentuan yang mengiringinya.